04032012





DASAR-DASAR
PENGETAHUAN UMUM IBADAH

Perlulah kita ketahui ada beberapa kiat khusyu’ dalam mendirikan shalat yang kerap kali disinggung di dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini, khususnya yang berkenaan dengan hukum dan tata cara mendirikan shalat, di antaranya:

Pertama.
Mengenal tanda-tanda Kebesaran Allah, Menghadirkan atau dapat merasakan hati individu kita hidup, Mengagungkan dalam penyaksian dan Takut kehilangan kasih sayang Allah, karena yang paling khusyu’ dalam mendirikan shalat adalah orang yang paling bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al B aqarah, 2 ayat: 46.
 (orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Al Qur’an surat Al Fathir, 35 ayat: 28.
 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$#
 Sesungguhnya yang takut (bertakwa) kepada Allah hanyalah para ulama.

Adapun maksudnya yaitu hanya kita-kita yang mau menuntut ilmu yang tergolong bertakwa kepada Allah SWT, dan tentunya hanya yang menuntut ilmulah yang tahu metodenya atau caranya khusyu’ dalam mendirikan shalatnya, adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu yang shahih yang membuahkan amalan shalih, karena itu Al-Hasan al-Bashri pernah menyatakan:

Ilmu itu ada dua macam: ilmu ungkapan lidah, dan ilmu di sanubari. Adapun ilmu sanubari, itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu ungkapan lidah, adalah hujah Allah atas manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surat Az Zumar, 39 ayat: 9.

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran”.


Apakah kamu yang lebih beruntung wahai orang-orang musyrik, ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam, dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut akan (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya…”.

Kedua.
Kita menyadari bahwa shalat adalah perjumpaan, sekaligus komunikasi individu kita sejati dengan Allah SWT, adapun hal ini telah dihistorieskan dalam hadits Nabi:
Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya sedang berkomunikasi dengan Allah….” (HR. Bukhari: 531, Muslim: Syarah Nawawi: 5/40-41, An-Nasa’i: 1/163. 11/52-53 dan lain-lain)

Dan didalam histories Imam Nawawi berkata:

Sabda beliau: “..sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada Rabb-nya…”, merupakan isyarat akan pentingnya keikhlasan hati, kehadirannya {dalam shalat) dan pengosongannya dari selain berdzikir kepada Allah… ” (Lihat Syarhu Shahih Muslim V/40-41)

Maka jika mendirikan shalat adalah komunikasi kita sebagai seorang hamba kepada Allah SWT, dan ini sudah  disadari oleh kita yang mendirikan shalat, maka sudah selayaknya hal ini memacu individu kita untuk bersikap khusyu’, karena kita pun sadar, bahwa segala gerak hati individu kita yang hidup atau berdenyut atau bergetar, apalagi gerak tubuh kasar kita yang mana pasti selalu diperhatikan oleh Allah SWT.

Ketiga.
Ikhlas dalam melaksanakannya, karena keikhlasan adalah ruh amal individu kita sejati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surat Al Mulk, 67 ayat: 2.
Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ
“ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”,

Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:

Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang paling ikhlas dan paling benar.

Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran syari’at (benar), tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas, artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti Sunnah Rasul. (Lihat Al-Hilyah – oleh Abu Nu’aim: V111/59, Tafsir Al-Baghwi: 1V/369, Zadul Masir: 1V/79)

Adapun satu amalan yang kita lakukan dengan ikhlas, maka dengan sendirinya akan mudah meleburkan individu kita sebagai hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah ini sendiri, karena tak satupun -menurut keyakinan kita- yang pantas menguras perhatian individu kita selain Allah.

Keempat.
Memfokus atau mengkonsentrasikan individu kita hanya untuk Allah SWT. Dalam shahih Muslim dihistorieskan bahwa Rasulullah bersabda:

Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak malakukan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsentrasikan diri hanya mengingat Allah; maka ia akan keluar dari shalatnya laksana bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Muslim: 832 dan Ahmad: IV / 112-385, dari hadits Amru bin Abasah)

Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan:

Sesungguhnya kekhusyu’an dalam shalat itu hanya dapat dicapai oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu, disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain.

Kelima.
Menghindari berpalingnya hati individu kita dan anggota tubuh dari shalat. Aisyah pernah bertutur:

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajah di kala shalat, ke arah lain. Beliau menjawab: “Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba.” (HR. Bukhari: 571, Abu Dawud: 910, Tirmidzi: 589, An-Nasa’i: III/7 dan lain-lain)

Ath-Tayyibi menyatakan:

Dinamakan dengan “hasil curian”, menunjukkan betapa buruknya perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah, namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah, setan langsung beraksi!

Imam Ash-Shan’ani menyatakan:

“Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena itu dapat mengurangi kekhusyu’an, dan dapat juga menyebabkan sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat itu adalah menghadap Allah.” (Lihat Subulu As-Salam I/309-310)

Keenam.
Merenungi atau merakan setiap gerakan dan dzikir-dzikir dalam mendirikan Shalat. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Muhammad,47 ayat: 24.
Ÿxsùr& tbr㍭/ytGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ
 Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”.

Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:

Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan dibaca) di setiap gerakan shalat.
Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan ke-Maha Agung-an Allah.
” (Lihat Ash-Shalah karya Ibnu Qayyim)

Kata Imam Al-Ghazali dalam Al-Arba’ien:

Hendaklah kamu membaca ‘Allahu Akbar’ dengan mengingat bahwasanya tidak ada yang lebih besar daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala;
Hendaklah kamu membaca ‘wajjahtu wajhiya …,’ dengan perasaan bahwa kamu benar-benar menghadapkan jiwamu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpaling dari selainNya;
Hendaklah kamu membaca ‘AlhamdulilLah’, dengan ‘penuh rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segala nikmat-nikmatNya;
Hendaklah kamu membaca ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’ien’, dengan perasaan bahwa ‘kamu sangat lemah dan bahwa segala urusan itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata;
Dan hendaklah di tiap-tiap kamu membaca dzikir, kamu ingat makna-maknanya. Dan ketahuilah, bahwa segala yang membimbangkan kamu dari memahamkan makna apa yang kamu baca dipandang was-was

Ketujuh.
Memelihara thuma’ninah (ketenangan), dan Tidak terburu-buru dalam mendirikan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an suran An Nisaa,4 ayat: 103.
  #sŒÎ*sù öNçGYtRù'yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r'sù no4qn=¢Á9$#
Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…”.

Jadi sudah sungguh jelas ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam mendirikan shalat yang harus kita perhatikan, yang mana sehingga “keharusan” mendirikan shalat bagi kita sebagai seorang mukmin di saat-saat berperang dengan pikiran-pikiran kita yang selalu nyelonong kesana dan kemari, barulah kita lakukan kala pikiran kita dan perasaan kita sudah kembali tenang, adapun hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang “Shalat orang yang asal-asalan”, yang lalu dikoreksi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan orang itu disuruh mengulangi shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya:

…dan ruku’lah sehingga kamu thuma’ninah dalam ruku’ itu, lalu tegaklah berdiri sampai kamu thuma’ninah dalam berdiri…dst.” (HR. Bukhari: 757, 793, 6251 dan lain-lain, Muslim: 397, Abu Dawud: 956 dan yang lainnya)

Maka sekianlah dahulu dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini, dan marilah kita berdoa bersama, agar kita semua yang hadir diminggu pagi yang dimuliakan Allah SWT ini dapat mengamalkan dan sangat mudah memahaminya!

"Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin.

26022012


DASAR-DASAR PENGETAHUAN UMUM IBADAH
Perlulah kita ketahui yang mana pada saat mendirikan shalat dan kita sudah dapat menyaksikan Akbar-Nya, maka pada saat inilah kita akan mampu melihat fenomena-fenomena alam di bawah, samplenya, intuisi yang ditimbulkan oleh halusinasi kita, fikiran kita, perasaan kita, dan getaran gelombang-gelombang pendek kita yang dihembuskan syetan dan jin, maka kita yang dapat menyaksikan wajah-Nya pada saat mendirikan shalat sesungguhnya jiwa kita telah melampaui tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta menjulang menuju yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.

Firman Allah
SWT dalam Al Qur’an surat Al A’raaf, 7 ayat: 201
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Dan selanjutnya firman SWT dalam QS Ash Shaaffat, 37 ayat: 8
syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

Serta berikutnya dalam firman Allah SWT surat An Nahl, 16 ayat: 99-100
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

Jadi ayat-ayat ini sudah sungguh jelas buat kita menjelaskan yang mana pada saat kita mendirikan shalat sudah khusyu’’, yaitu dapat menyaksikan tertuju kepada yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan makhluq-Nya, dan selain ini adalah wilayah syetan dan anak cucunya yang siap menerkam jiwa-jiwa kita yang tersesat, karena hanya Akbar-Nya lah syetan tidak akan mampu memasukinya, adapun sebaliknya yaitu ciri kita yang belum dapat menyaksikan Akbar-Nya atau Wajah-Nya pada saat mendirikan shalat yaitu kita sering mengucapkan bahwa kita yang paling benar dan orang lain sesat, dan kita sering mengaku-ngaku kita harus berpegang Al Qur’an dan As Sunnah,

Maka yang sangat perlu kita ketahui untuk diketahui bahwa kita yang sampai kepada Allah SWT adalah kita yang mampu menangkap ilham-ilham Allah dan ini tidak akan bertentangan dengan perintah yang tertulis dalam Al Qur'an dan Al sunnah, adapun kesombongan dan keangkuhan merupakan bukti keadaan jiwa kita masih terikat oleh pengaruh alam ciptaan, maka untuk ini islam menolak didalam ibadah kita menggunakan sarana yang bukan Allah, seperti pembayangan guru, wasilah rasul, dan mantra-mantra, untuk menghantarkan jiwa kita menuju Allah SWT, karena hal ini sangat mustahil kita akan sampai kepada Allah SWT yang maha mutlak, sebab bayangan sesuatu hanya akan menyampaikan jiwa kita menuju alam yang paling rendah yaitu alam-alam halusinasi, kekuatan alam, kekuatan jin dan syetan, walaupun kita menggunakan sarana kalimat thayyibah samplenya, "Allah, laa ilaha illah, subhanallah", karena kalimat-kalimat ini bukan sekedar kata-kata yang tidak mempunyai makna, samplenya, seperti kita yang mendirikan shalat ketika memulainya menggunakan sarana bayangan tulisan Allah, atau gambar Ka’bah, maka hasilnya akan menjadi sama saja hanya sampai kepada pemuasan rasa tenang dan bahagia semata dan memanfaaatkan fenomena-fenomena kekuasaan dan ke"aku"an kita seseorang, karena alam ini masih termasuk dunia syahwat.

Selama
pengetahuan  kita mengenai Tuhan terbatas kepada apa yang kita bayangkan oleh pikiran kita dan perasaan kita sebagai obyek dalam mendirikan shalat, maka selama ini pula kita berkutat dalam mendirikan shalat yang menyimpang dari ketentuan Islam.

Didalam akhir bab ini mari kita perhatikan firman-firman Allah tentang perdebatan kecil antara Allah dan syetan: (QS 38:75-83)
Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk,
Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan".
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)".
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.


Adapun kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan syetan saat beliau pergi mi'raj dengan kekuatan jiwa muthmainnah sabda Nabi:

    "Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al hadist)

    "Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad dari abu Hurairah)

Demikian penjelasan keadaan atau suasana
shalat, serta tanjakan-tanjakan yang banyak dilalui kita didalam mendirikan shalat yang bersifat universal, adapun hal yang membedakan adalah akhir dari perjalanan jiwa kita tersebut yaitu kembali pasrah kepada Allah yang maha mutlak Atau ber-Islam atau berserah individu kita secara total.....Inna lIlahi wa inna ilaihi raji'un…..atau tidak berhenti pada tahapan-tahapan alam.

Maka marilah kita berdoa bersama!

"Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang bekonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin.

19022012, dikediaman Ust Drs Syawaludin, Perum Alinda Kencana I,Bekasi

Read by Bpk Jhon Harahap



Dasar-Dasar 
Pengetahuan Umum Ibadah

Perlulah kita ketahui janganlah kita "Mencari Khusyu" tetapi cukup siapkan individu kita untuk "Menerima khusyu" ini sendiri. Karena khusyu bukanlah kita ciptakan akan tetapi "Diberi langsung" oleh Allah SWT sebagai hadiah nikmat kita menemuiNya, Adapun tips ini yang sangat sederhana, tetapi ini bagi kita adalah lompatan paradigma! maka kita harus bersikap rileks, kepala hingga pinggang dikendorkan, berdiri santai, senyaman kita berdiri, menggambarkan laksana pohon cemara kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tidak roboh, dan pandangan kita picingkan atau agak sayu ketempat syujud, serta usahakan/tahan jangan sampai berkedip dari mulai takbir hingga salam, maka selanjutnya bersikap rileks menyiapkan hati individu kita yang koordinatnya, didalam diantara dua rongga dada diatas perut kita sehingga kita dapt merasakan ia hidup atau berdenyut untuk mempersiapkan "Menerima" karunia "Khusyu". karena "khusyu" ini diberi, bukan kita ciptakan.

Lalu pada mulai berdiri,  kita  berdiri dan pandangan kita mulai seperti kabur seperti kita fatamorgana atau mulai takbir, Allahu Akbar, dan selanjutnya kita baca dengan pelan-pelan, karena bacaan shubuh harus diucapkan agak keras, maka kita rendahkan suara kita dan kita berdiri lama, banyak berhenti kalau memang sedang tidak ingin baca, serta kita meresapi kesendirian dalam berusaha menangkap kehadiran Dzat yang turun dari kedua urat leher kita atau tenggorokan kita kedalam diantara dua rongga dada diatas perut kita sehingga menyentuh hati individu kita, sehingga kita menyadari dan pada akhirnya kita memahami, bahwa kita hidup adanya kehidupan dan ada yang menghidupkan yang mana hal sedemikian ini sesungguhnya amat dekat dengan kita, namun mengapa kita tumpul untuk merasakan hal ini.......yang mana sesungguhnya kita sedang menemuiNya sekarang, Saya, ruh saya tepatnya, karena badan fisik ini hanyalah alat yang mengantar ruh ini berjumpa kembali dengan yang kita cintainya, ialah Allah yang meniupkan ruh ini ke dalam badan fisik.

Ternyata demikian halnya dengan sholat kita sendiri. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini, sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat, kembali menemui Tuhannya. sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita inilah sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma`ninah. Sayangnya badan kita "ngebut", jadilah Ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan. maka Tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku, tunggu, tunggu hinngga ruh ikut mantap dalam ruku itu. saat i`tidal, tunggu, tunggu hingga ruh-mu ikut mantap i`tidal. Demikian pula saat sujud, duduk diantara dua sujud, juga duduk tasyahud. tunggu, tunggu hingga ruh-mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Berikan kesempatan ruh kita, sebut saja "aku" yang sejati, untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk "aku" kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Maka saya sholat dengan sangat pelan, santai, kalau sedang malas baca, saya diam saja. menikmati kepasrahan saya hadir menemui Tuhan. Saya baca, bacaan sholat dengan pelan. Saya mencoba berdilog, dan itulah memang esensi sholat. Yang mana Esensi Sholat adalah Do`a (berdialog dengan Allah secara langsung)

Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawab langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku, saya ruku lama, sambil menarik regang akaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senan. Saat sujud, saya tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya "terpijat" dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, saya baca dengan penghayatan "Subhana robbiyal a`laa wa bihamdih" (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji) 

Lalu, saya duduk setelah sujud. saya baca sepotong-sepotong bacaanya, sesuai tips buku itu. Robbighfirlii (Ya Tuhan ampuni aku). Lalu saya diam. Tiba-tiba keluar sendiri air mata, saya menangis karena menyadari betapa dalam mana kalimat pengaduan ini. Kita minta secara langsung untuk dimaafkan. Ruh kita meminta secara langsung, dan Allah menjawabnya. saya menangis. Ruh saya, kita yang sejati, menangis. Warhamni (dan sayangilah aku), air mata itu tumpah. Wajburni. Diam. Warfa`nii. Diam. Saya tak terlalu yakin arti yang saya baca. tapi saya makin menangis. Warzuknii (beri rizki padaku-Ya Allah), air mata saya tumpah betul-betul saya tiba-tiba sadar bahwa selama ini saya mengejar-ngejar rizki tapi tidak serius mengakui itu dari-Nya, lalu saat ini saya sedang memintanya langsung! Wahdinii (tunjukilah aku, karena kau sedang bingung dan tak tahu). Diam, saya menangis. Wa`aafinii (dan sehatkanlah aku, aku yang sedang sakit pilek). Wa`fuannii (dan maafkan aku, yang banyak dosa ini). saya duduk lama sekali. Sambil mengusap air mata yang bercucuran.

Sholat shubuh dua rakaat ini panjang. ditutup dengan tasyahud yang menggetarkan. apalagi ketika membaca "Assalaamu`alainaa wa `alaa ibaadillahisshoolihin" (keselamatan mohon dikaruniakan kepada kami, para ruh yang sedang menemui-Mu dan atas ruh-ruh ahli-ahli ibadah yang sholihin).Saya menangis terus-menerus, sehingga berulang kali mengusap lendir yang keluar dari hidung.
Setelah sholat, sesuai dengan tips buku itu, saya mulai berdo`a dengan meratap. Saya ucapkan hanya, "Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah..." Sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti seorang pengemis yang meminta-minta. Berkali-kali, hingga hati saya siap berdo`a.
Saya ingat buku Al Ghazali dulu saya baca, sekitar 15 tahun lalu, yang berjudul Rahasia Sholat. salah satu point yang saya ingat adalah kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya laksana seoarang anak kecil yang ketakutan karena ada ular atau bahaya, lalu memanggil-manggil ayahnya, "Ayah...Ayah...Ayah...", maka ayahnya pasti datang dengan seruan itu dan melindungi anak tersebut. Demikianlah kalau kita ingin bebas maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Lalu saya berdo`a, dengan masih terus menangis. Saya merasa mengadu dan masih mengadu di depan Tuhan secara langsung. Saya mengikhlaskan apapun jawaban dari Do`a saya tersebut. Saya bahagia bisa merasakan sholat seperti itu. Tidak akan tergantikan dengan uang dan kemewahan dunia lainnya.
Sunggguh pengalaman yang menakjubkan. Cerita berhalaman-halaman tidak akan mampu melukiskan hal itu. silakan coba sendiri, rasakan sendiri, menangislah mengadu kepada Allah sendiri. Saya cuma mau berbagi serita, dengan kekhawatiran saya kehilangan rasa yang sama di sholat berikutnya (insya Allah mudah-mudahan tidak akan hilang).

Problem yang sekarang muncul, tampaknya akan sulit lagi menikmati sholat kilat, dibelakang imam yang irama sholatnya lebih cepat dari saya. Apakah saya perlu sholat sendiri dulu beberapa waktu ini ?

Maka sekian dahulu dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini, dan marilah kita berdo`a bersama, agar kiata semua yang hadir diminggu pagi yang dimuliakan Allah SWT ini dapat mengamalkan dan sangat mudah memahaminya !

Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
 
Amin ya rabbal alamin.

12022012, dikediaman Bpk Alan Rudi, Tanah Baru,Harja Mekar,Cikarang

Read By Bpk. RT, Mufid 


DASAR-DASAR
PENGETAHUAN UMUM IBADAH
Perlulah kita ketahui yang mana pada saat mendirikan shalat dan kita sudah dapat menyaksikan Akbar-Nya, maka pada saat inilah kita akan mampu melihat fenomena-fenomena alam di bawah, samplenya, intuisi yang ditimbulkan oleh halusinasi kita, fikiran kita, perasaan kita, dan getaran gelombang-gelombang pendek kita yang dihembuskan syetan dan jin, maka kita yang dapat menyaksikan wajah-Nya pada saat mendirikan shalat sesungguhnya jiwa kita telah melampaui tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta menjulang menuju yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.

Firman Allah
SWT dalam Al Qur’an surat Al A’raaf, 7 ayat: 201
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

Dan selanjutnya firman SWT dalam QS Ash Shaaffat, 37 ayat: 8
syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

Serta berikutnya dalam firman Allah SWT surat An Nahl, 16 ayat: 99-100
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

Jadi ayat-ayat ini sudah sungguh jelas buat kita menjelaskan yang mana pada saat kita mendirikan shalat sudah khusyu’’, yaitu dapat menyaksikan tertuju kepada yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan makhluq-Nya, dan selain ini adalah wilayah syetan dan anak cucunya yang siap menerkam jiwa-jiwa kita yang tersesat, karena hanya Akbar-Nya lah syetan tidak akan mampu memasukinya, adapun sebaliknya yaitu ciri kita yang belum dapat menyaksikan Akbar-Nya atau Wajah-Nya pada saat mendirikan shalat yaitu kita sering mengucapkan bahwa kita yang paling benar dan orang lain sesat, dan kita sering mengaku-ngaku kita harus berpegang Al Qur’an dan As Sunnah,

Maka yang sangat perlu kita ketahui untuk diketahui bahwa kita yang sampai kepada Allah SWT adalah kita yang mampu menangkap ilham-ilham Allah dan ini tidak akan bertentangan dengan perintah yang tertulis dalam Al Qur'an dan Al sunnah, adapun kesombongan dan keangkuhan merupakan bukti keadaan jiwa kita masih terikat oleh pengaruh alam ciptaan, maka untuk ini islam menolak didalam ibadah kita menggunakan sarana yang bukan Allah, seperti pembayangan guru, wasilah rasul, dan mantra-mantra, untuk menghantarkan jiwa kita menuju Allah SWT, karena hal ini sangat mustahil kita akan sampai kepada Allah SWT yang maha mutlak, sebab bayangan sesuatu hanya akan menyampaikan jiwa kita menuju alam yang paling rendah yaitu alam-alam halusinasi, kekuatan alam, kekuatan jin dan syetan, walaupun kita menggunakan sarana kalimat thayyibah samplenya, "Allah, laa ilaha illah, subhanallah", karena kalimat-kalimat ini bukan sekedar kata-kata yang tidak mempunyai makna, samplenya, seperti kita yang mendirikan shalat ketika memulainya menggunakan sarana bayangan tulisan Allah, atau gambar Ka’bah, maka hasilnya akan menjadi sama saja hanya sampai kepada pemuasan rasa tenang dan bahagia semata dan memanfaaatkan fenomena-fenomena kekuasaan dan ke"aku"an kita seseorang, karena alam ini masih termasuk dunia syahwat.

Selama
pengetahuan  kita mengenai Tuhan terbatas kepada apa yang kita bayangkan oleh pikiran kita dan perasaan kita sebagai obyek dalam mendirikan shalat, maka selama ini pula kita berkutat dalam mendirikan shalat yang menyimpang dari ketentuan Islam.

Didalam akhir bab ini mari kita perhatikan firman-firman Allah tentang perdebatan kecil antara Allah dan syetan: (QS 38:75-83)
Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk,
Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan".
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)".
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.


Adapun kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan syetan saat beliau pergi mi'raj dengan kekuatan jiwa muthmainnah sabda Nabi:

    "Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al hadist)

    "Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad dari abu Hurairah)

Demikian penjelasan keadaan atau suasana
shalat, serta tanjakan-tanjakan yang banyak dilalui kita didalam mendirikan shalat yang bersifat universal, adapun hal yang membedakan adalah akhir dari perjalanan jiwa kita tersebut yaitu kembali pasrah kepada Allah yang maha mutlak Atau ber-Islam atau berserah individu kita secara total.....Inna lIlahi wa inna ilaihi raji'un…..atau tidak berhenti pada tahapan-tahapan alam.

Maka marilah kita berdoa bersama!

Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin