05022012,dikediaman Ust Dumyati Yahya, Kayu Tinggi

Read Ust Azis

DASAR-DASAR
PENGETAHUAN UMUM IBADAH

Perlulah kita ketahui segala bentuk ibadah akan terwujud dalam individu kita sebagai hamba manakala memenuhi tiga landasan yang sangat mendasar: adanya hubb atau kecintaan, dan khauf atau takut, serta roja` atau pengharapan. Jadi yang benar adalah yaitu kita hendaknya beribadah kepada Allah dengan kecintaan kepadaNya, dan mengharapkan terbukanya hijab, serta takut akan tak dapat menyaksikan yang kita ibadati, atau berjumpa kepada-Nya.

Adapun Khauf dan roja` adalah dua ibadah yang sangat agung, dan apa bila keduanya menyatu dalam individu kita sebagai mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas kehidupan kita. Bagaimana tidak, sebab dengan khauf akan membawa individu kita untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan, dan sementara roja` akan menghantarkan individu kita untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Rabb-kita 'Azza wa Jalla. Jadi walhasil pendek kata dengan khauf dan roja` kita sebagai seorang mukmin akan selalu ingat bahwa individu kita sejati akan kembali ke hadapan Sang Pencipta kita, disamping ini kita akan bersemangat memperbanyak amalan-amalan. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al Mukminun, 23  ayat: 57-61.

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Adapun hakikat khauf atau takut adalah ibadah hati individu kita yang kordinatnya didalam diantara dua rongga dada diatas perut kita, dan tidak dibenarkan khauf ini kecuali terhadap-Nya Subhanahu wa Ta'ala, karena khauf adalah syarat pembuktian keimanan kita seseorang. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran, 3  ayat:175.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Maka apabila khauf kepada Allah berkurang kita dalam merasakan adanya kehidupan, dan ini sebagai tanda mulai berkurangnya pengetahuan kita terhadap Rabb-kita, karena hal ini disebabkan orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya, adapun rasa khauf akan muncul dengan sebab beberapa hal, di antaranya: 

Pertama,
Pengetahuan kita seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita serta kejelekan-kejelekan kita.
Kedua,
Pembenarannya akan ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan kita.
Ketiga,
Mengetahui akan adanya kemungkinan penghalang antara individu kita dan taubat kita.

Adapun untuk menimbulkan rasa takut, di kitab Riyadlus Shalihin dijelaskan bahwa ada empat hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat :
1.   Untuk apa saja umur kita dihabiskan?,,,,,,,,
2.   Bagaimana ilmu kita diamalkan?,,,,,,,,,,
3.   Bagaimana harta diperoleh dan dikeluarkan untuk apa saja?..........
4.   Badan kita dipergunakan apa saja ketika kita hidup di dunia?,,,,,,,,,
Maka marilah kita coba direnungkan sudahkah kita bisa mempertanggung jawabkannya?.......

Adapun hakekat roja` secara bahasa artinya harapan atau cita-cita, sedangkan menurut istilah ialah bergantungnya hati individu kita dalam meraih sesuatu di kemudian hari, karena roja` merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan, tidak boleh ada kecuali kepada Allah 'Azza wa Jalla, yang mana sehingga memalingkannya kepada selain Allah adalah kesyirikan atau bisa berupa syirik besar atau pun syirik kecil, dan tergantung apa yang ada dalam hati individu kita yang tengah mengharap, jadi roja atau harapan atau mengharap tidaklah menjadikan kita sebagai pelakunya terpuji kecuali bila disertai amalan. Allah SWT berfirman surat Al Baqarah, 2 ayat: 218.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Kahfi, 18  ayat: 110.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Berkata Ibnul Qoyyim dalam "Madarijus-Salikin": "Orang-orang yang mengerti telah bersepakat bahwa roja` tidak akan sah kecuali jika dibarengi dengan amalan. Oleh karena itu, tidaklah seseorang dianggap mengharap apabila tidak beramal". Dengan demikian, roja` kepada Allah akan tercapai dengan beberapa hal, diantaranya:
pertama, senantiasa menyaksikan karunia-Nya, kenikmatan-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya terhadap hamba;
kedua, jujur dalam mengharap apa yang ada di sisi Allah dari pahala dan kenikmatan; ketiga, membentengi diri dengan amal shaleh dan bergegas dalam kebaikan.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- membagi roja` menjadi tiga bagian, dua di antaranya roja`,yang benar dan terpuji pelakunya, sedang yang lainnya tercela. Roja` yang menjadikan pelakunya terpuji,
pertama: seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah, di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahalaNya;
kedua: seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela: seseorang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan; roja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

Ketahuilah pula, bahwa jika ada yang berkata :
Mana yang lebih utama, Takut atau Harap?........
Maka itu seperti perkataan :
Mana yang lebih utama, Roti atau Air?.........
Dan jawabannya:
bagi kita yang lapar roti lebih baik, sedangkan untuk kita yang haus air lebih baik, maka jika keduanya bersatu, kita lihat yg lebih dominan, jika sama-sama pase lapar dan haus kita, maka roti dan air setara kebaikannya.

Jadi walhasil Khauf dan Roja' adalah dua obat yang dengannya qalbu individu kita tersembuhkan, maka keutamaan keduanya tergantung penyakit yang ada di qalbu individu kita, jadi jika yg dominan di qalbu individu kita merasa aman dari rencana Allah dalam firman-Nya surat Al A’raaf , 7 ayat: 99


Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Maka Khauf atau Takut lebih utama, dan sedangkan jika kita banyak maksiat sehingga putus asa dari rahmat Allah, maka Rojaa atau Harap lebih utama, namun secara keseluruhan boleh juga dikatakan bahwa Khauf lebih utama dari Roja', karena secara umum lebih banyak kita yg tertipu penyakit "aman", akan tetapi jika kita lihat dari sisi nilainya, Roja' lebih bernilai dari Khauf, karena Roja' berharap pada Rahmat Allah, sedangkan Khauf adalah Takut pada Murka Allah, adapun maksudnya yaitu Rahmat-Nya lebih besar dari Kemarahan-Nya.

Adapun kita yang bertaqwa, maka sebaiknya seimbang antara Takut dan Harap, dan jika kita katakan “Semua orang masuk Surga kecuali satu orang, hendaknya kita takut menjadi yang satu itu”, atau jika kita katakan “Semua orang masuk Neraka kecuali satu orang, hendaknya kita berharap individu kita-nyalah orang tersebut, demikian pula jika kita tanyakan “Bagaimana Takut diseimbangkan dengan Harap pada individu orang yang beriman, padahal dengan ketaqwaannya, bukankah seharusnya Harap lebih dominan?...... jawabnya : karena kita tidak tahu apakah ketaqwaan tersebut diterima Allah, sehingga selalu harus menyertakan rasa takut dalam beramal baik.

Maka Takut yang terpuji adalah yang mendorong Amal kita, dan mengingatkan Qalbu individu kita agar tidak cenderung pada keduniaan, adapun apabila ketika datang kematian, maka yang terbaik bagi kita adalah Roja', karena Khauf seperti cambuk untuk beramal, sedangkan setelah mati tiada amal lagi, maka Khauf kurang bermanfaat menjelang kematian, bahkan melemahkan qalbu individu kita, sedangkan Rojaa pada keadaan ini akan menguatkan qalbuindividu kita, maka dengan Rojaa kita jadi makin cinta pada Allah, karena tiada kita seorang pun layak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan Cinta pada Allah Ta'ala, sedangkan kalimat cinta disini yaitu untuk berjumpa denganNya, dan berbaik sangkaan kita kepadaNya.

Adapun kesimpulanya, Roja` menuntut adanya khauf dalam individu kita sebagai seorang mukmin, yang dengan ini akan memacu kita untuk melakukan amalan-amalan sholeh, adapun amalan sholeh tanpa kita sertai khauf, dan roja` hanya akan bernilai sebuah fatamorgana, dan sebaliknya khauf juga menuntut adanya roja`, maka demikian pula tanpa roja` khauf hanyalah berupa keputusasaan tak berarti, jadi khauf dan roja` harus senantisa menyatu dalam individu kita sebagai seorang mukmin dalam rangka menyeimbangkan hidup kita untuk tetap istiqomah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, mengharap pahala dan takut akan siksa-Nya, maka sudah sungguh jelas buat kita yang mempelajari dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini yang mana keduanya yaitu khauf dan roja` ibarat dua sayap burung yang dengannya ia dapat menjalani kehidupan kita dengan sempurna. QS. 23: 60-61.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,
mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Jadi walhasil kita harus senantiasa perkuatlah rasa Takut atas Harap agar terus terdorong meningkatkan amal kebaikan sesuai firman Allah SWT tersebut, kecuali saat dosa-dosa kita yang membuat kita putus asa atau saat hampir berakhir kesempatan kita untuk beramal.

Maka marilah kita berdoa bersama!

"Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin.

29012012, Dikediaman Tengku Iwan Pahlevi, Perum Alinda Kencana I, Bekasi

Read By Dorojatun

DASAR-DASAR
PENGETAHUAN UMUM IBADAH

  perlulah kita ketahui yang mana pada saat kita mendirikan shalat sering kali kita mendengar kata bergetar digunakan untuk penyebutan sesuatu yang sulit di bahasakan secara verbal, dan belum ada satu kalimat yang tepat yang bisa mewakili arti dan menunjukkan keadaan yang kita rasakan pada saat mendirikan shalat, samplenya, seperti getaran cinta, getaran rasa, getaran emosi, getaran gelombang elektromagnetik, getaran suara, getaran wahyu atau ilham, adapun Al Qur'an juga tidak secara gamblang menggambarkan keadaan Iman atau ciri-ciri yang sebenarnya, dan disana hanya disebutkan wajilats quluubuhum artinya bergetar hatinya, perhatikanlah firman Allah SWT dalam Al Qur;an surat Al Anfaal, 8 ayat: 2.


Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
Dan juga disurat Az Zumar, 39 ayat: 23

 
taq syairru minhu juludulladzina yakhsyauna rabbahum artinya, gemetar karenanya kulit/fisik orang-orang yang merasa takut kepada Tuhannya”.

Memang sangat sulit bagi kita sekalipun kita sebagai mufassir atau penyair atau seniman musik atau pelukis atau filosof untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan secara transenden, yang mana sehingga kita hanya mampu merangkai kata-kata atau bunyi-bunyian atau warna-warna, sebagai ungkapan kedalaman makna dan arti yang tidak berasal dari apa yang bisa kita gambarkan seperti naluri, insting, inspirasi, ilham atau wahyu !! yaitu yang turun melalui getaran penuh muatan makna dan pengertian yang berasal dari ilahi.

Maka sebelumnya kita akan mengajak seluruh ikhwan yang hadir  untuk mengkaji mengenai getaran yang diakibatkan oleh proses shalat atau ingat, dan selanjutnya juga akan kita bahas secara universal dan ilmiah baik segi fisiologi maupun psikologi maka marilah kita memperhatikan firman Allah surat Azzumar, 39 ayat: 22-23, 

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.

Maka sudah sungguh amat jelas penjelasan pada ayat ini diawali dengan "terbukanya hati orang yang menerima cahaya Islam dari Tuhannya yaitu pencerahan, kemudian bergetar atau terguncang fisik orang yang menerima cahaya atau pencerahan dari Tuhannya, lalu proses itu berlanjut dengan adanya harmonisasi antara fisik dan hati tatkala mengingat Allah...….itulah petunjuk Allah. Mungkin bisa kita tegaskan disini keadaan ini merupakan hal yang universal dan alami, bukan klenik atau khurafat, adapun didalam histories atau tareh, Rasulullah pada saat pertama kali menerima wahyu di goa Hira mengalami guncangan tubuh atau beliau menggigil yang amat sangat, sehingga Siti Khadjah menyelimutinya. padahal udara di luar sangat panas, dan didalam histories lainya Siti Aisyah ra berkata :

"Aku pernah melihat saatnya turun wahyu kepada Nabi pada suatu hari sangat dingin, kemudian Aku lihat dahi Nabi bercucuran keringat, pada saat itu aku menyekanya".

Adapun didalam histories atau tareh Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah ibn 'Umar ra:

"saya bertanya kepada Nabi Saw. apakah engkau merasa bahwa wahyu akan datang ?" menjawab Nabi : "Kadang-kadang aku dengar suara gemerincing lonceng yang sangat keras, sesudah itu akupun terdiam mendengar itu. Tiap-tiap kali wahyu datang demikian aku merasa jiwaku akan dicabut".
Rasulullah merasakan keadaan seperti ini yang paling berat dirasakan.

Demikian pula yang dihistories oleh Al Bukhari dari Shafwaan ibn Ya'la ibn Umayyah :

Ya'la berkata : Sementara Nabi berada di Ja'ranah, berteduh dibawah sehelai kain beserta beberapa shahabat, tiba-tiba datanglah seorang Badawy berbaju jubah yang berlumur dengan bau-bauan, lalu bertanya ; "Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau mengenai seorang yang berihram untuk umrah dengan memakai jubah yang berlumuran bau-bauan ?" maka Umar memberi isyarat kepada Ya'la, mengajak masuk ketempat Nabi berteduh, Ya'la melihat Nabi telah merah mukanya dan terus tertidur serta mengeluarkan orokan seperti orang epilepsy . Sesaat kemudian Nabi sadar , lalu Nabi berkata : "Mana orang yang baru bertanya tentang umrah". Sesudah orang itu di cari dan datang, Nabi berkata : "bau-bauan itu hendaklah kamu basuhnya tiga kali. Sedangkan jubah itu haruslah kamu tanggalkan dari badanmu. Sesudah itu berbuatlah apa yang kamu buat untuk haji".

Adapun para orientalis Barat telah mempergunakan histories ini untuk menuduh Nabi SAW yaitu orang yang telah kehilangan kesadarannya karena terserang epilepsy, padahal nyata dari memperhatikan histories-histories itu, bahwa Nabi sesudah mengalami yang demikian ini, lalu memanggil juru tulisnya untuk menuliskan soal yang ditanyakan kepadanya tadi.
Kepustakaan : Sejarah dan pengantar ilmu Al-Qur’an danTafsir , M Hasbi Ash Shiddiqy, Bulan Bintang, Jakarta 1954.

Maka selanjutnya kita akan kembali membahas "getaran" sebagai sesuatu yang alamiah bukan sebagai hal yang dianggap mistik kurafat atau bid'ah oleh sebagian diantara kita, maka kita sering mendengar kata transenden, yang di pergunakan untuk menunjukkan rasa yang dalam atau rasa rohani, dan biasanya kita gunakan untuk menunjukkan kepada rasa iman atau rasa percaya terhadap sesuatu yang abstrak atau tidak kasat mata, adapun dalam harfiahnya transenden artinya sesuatu yang utama atau yang hakiki, dan rasa iman adalah rasa yang harus kita rasakan oleh kehakikian jiwa kita, adapun kepura-puraan atau sebatas kepercayaan pada fikiran kita saja, maka hal ini oleh Rasulullah SAW disebut kaum yang tunduk pada tatanan hukum syariat dan belum masuk ke tahapan kaum mukmin, maka Al Qur'an menjelaskan secara tuntas pebedaannya dalam surat Al Hujuraat, 49 ayat: 14. Sebagai berikut!! 

"Orang-orang Badwi itu berkata : kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah : kami telah tunduk (Aslamna/ kami baru berislam/ muslim), karena iman itu belum masuk kedalam hatimu".

Jadi sudah sungguh jelas kata 'aslamna' adalah menunjukkan sebuah pernyataan buat kita telah tunduk, artinya kita telah menerima semua aturan islam secara keseluruhan yaitu Al-Qur’an dan Al hadits, akan tetapi rasa iman ini belum bisa kita rasakan karena baru masuk pada tahapan percaya dalam logika kebenaran kita, dan bukan keimanan yaitu yang kita rasakan dalam hati individu kita yang kordinatnya didalam
diantara dua rongga dada diatas perut kita, adapun hal ini kita kaitkan dengan keadaan yang dirasakan oleh orang yang sudah memasuki keimanan dalam hatinya sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mayam, 19 ayat: 58. Sebagai berikut. 
 
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil , dan dari orang-orang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila di bacakan ayat-ayat Allah maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis".

Maka setelah kita telah membaca ayat diatas, adapun maksudnya yaitu kita telah mendapatkan data-data diatas dengan benar dari kitab yang suci, maka untuk ini kita disebut telah mempercayai dengan logika ilmu syariat, barulah kita komunitas termasuk golongan yang mempercayai adanya kebenaran syariat tersebut, adapun yang mempercayai dan melaksanakan nash ini disebut muslim atau kita telah tunduk kepada peraturan….. lalu kemudian kita mencoba untuk melakukannya lebih khusus dan dalam, yang mana sehingga kita mendapatkan karunia rasa dalam hati individu kita berupa getaran jiwa kita dan menangis tatkala menyebut nama Allah....…dalam hal ini, maka kita telah memasuki rasa iman yang muncul dari rohani kita....... maka kita dapat membenarkan adanya ayat-ayat diatas dengan pengalaman langsung, kita rasakan oleh jiwa kita, adapun pengalaman rohani ini termasuk keimanan dan merupakan ciri-ciri jiwa kita yang telah mendapatkan karunia dari Allah. Jadi pengalaman rohani inilah berupa iman yang kita maksud dengan transcendent....… yang di dalam bahasa tasawuf disebut pengalaman haqul yakin atau keyakinan secara benar atau haq, yaitu kita merasakan keimanan secara langsung dan dibenarkan oleh nash Al-Qur’an....... dan bukan hasil dari 'katanya' orang lain, serta bukan dari hayalan pikiran kita, adapun yang menjadi pemikiran kita yaitu bagaimanakah cara kita bisa atau apa ciri-ciri kita yang sudah tergolong menerima Allah sebagai Tuhan secara transenden itu ?...... sesungguh sudah dijelaskan diatas, bahwa kita yang telah menerima data dengan lengkap serta telah melaksanakan syariat, akan tetapi belum tentu kita merasakan keimanan secara langsung dalam hati individu kita, adapun iman yang langsung ini yaitu merupakan karunia dari Allah SWT...…dan harus kita capai dengan sering mendekat kepada Allah setiap saat agar Allah membukakan hati individu kita yang kordinatnya didalam diantara dua rongga dada diatas perut kita untuk menerima hidayah berupa iman ini, dan jika kita merasakan getaran dan menangis tatkala disebut nama Allah, adapun hal dikarenakan kita dapat menyaksikan kepada yang kita ibadati atau menyaksikan kebesaran-Nya, maka inilah merupakan pengalaman transcendent...... dan biasanya pengalaman kita ini dibenarkan atau di dasari oleh Al-Qur’an dan dirasakan oleh pendahulu-pendahulu kita baik ulama maupun para wali-wali yang telah mengalami langsung, adapun pengalaman ini kadang menjadi aneh dan asing bagi yang tidak pernah merasakan, yang mana sehingga kita yang menangis ketika mendirikan shalat dianggap tidak normal..…bahkan ada yang secara ekstrim mengatakan bid'ah, khurafat, mistik atau klenik...…

Maka sekianlah dahulu dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini, dan marilah kita berdoa bersama, agar kita semua yang hadir diminggu pagi yang dimuliakan Allah SWT ini dapat mengamalkan dan sangat mudah memahaminya!

"Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin.



22012012, Dikediaman Pak Winarto, di Perum Alinda Kencana 1, Bekasi

Read by Ust Syawal. Lc


39
 
DASAR-DASAR
PENGETAHUAN UMUM
IBADAH

Perlulah kita ketahui pada bab berikut ini kita  akan mengajak membuka cakrawal dengan melatih mental spiritual, adapun salah satunya adalah mendirikan shalat, yang merupakan sarana mi'rajnya kita sebagai orang mukmin, karena dengan shalat inilah kita menyadari bahwa kita bertemu dengan Tuhan yang maha Agung atau dapat menyaksikan Akbar-Nya, dan setelah memahami seluruh rangkaian dasar dasar pengetahuan ibadah yang telah diuraikam didalam setiap artikel minggu pagi, mudah-mudahan kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Dalam makna syariat kita sebagai umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit, sehingga tidak jarang kita kehilangan substansinya, dan akibatnya kita hanya melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga yakni pembuka jalan menuju "kebenaran syariat", samplenya sikap terhadap mendirikan shalat, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu’'an yang terabaikan oleh kita,  sehingga yang mana shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon petunjuk, akan tetapi telah berubah sebagai kewajiban yang harus kita penuhi dengan berbagai macam larangan dan ancaman yang mengerikan, bahkan terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam setiap melakukan syariat Islam, maka hal ini tidak ubahnya seperti tawanan perang yang harus memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang betapa kejamnya sang penguasa, dan belum lagi dalam melaksanakan petunjuk Al Qur'an yang terasa dikejar target syarat sahnya syariat selain hitung-hitungan amal, serta jarang mengarah pada pemahaman akan fungsi syariat ini sendiri, yang mana yaitu setiap syariat atau aturan Allah merupakan jalan dengan segala rambu-rambunya menuju hikmah yang terkandung di dalam teks dan praktek secara sempurna, agar terbuka tabir dibalik "firman", karena syariat bukan hanya untuk kita baca dan kita sucikan tanpa menyentuh isi tujuan yang kita baca, seperti tercantum dalam surat Al 'Alaq, 96 ayat: 1-5 sebagai berikut. 



Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah! dan Tuhanmu yang paling pemurah. Yang telah mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Memang Al Qur'an adalah firman Allah yang kita sucikan sehingga memegangnyapun harus suci dari hadast, namun hal ini bukan berarti haram bagi kita untuk memahami sesuai dengan kadar pemikiran kita dan pemahamannya, sebab Al Qur'an ini diturunkan sebagai petunjuk kita semua dan semesta alam, adapun apabila kita bersikap jumud atau pendek akal maka kita mengalami kemunduran pemikiran, karena Al Qur'an yang begitu agung tidak hanya bacaan suci yang berpahala dan pengobat hati individu kita saja, namun ia merupakan petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat, karena menurut kita seandainya Al Qur'an sudah kita pahami, insya Allah kita akan sadar pada integritasnya sehingga tidak akan mau menjadi budak materi atau harta banda, karena kata "iqra" merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya, dan ayat ini menyiratkan makna, betapa Al Qur'an membuka cakrawala dunia pengetahuan yang dapat kita gali melalui kata 'baca', bahkan sehingga histories  dunia pun mengakui bahwa pada abad ke tujuh Islam telah mengalami masa kejayaan dan peradaban yang pesat, yang mana Islam telah berhasil mengembangkan khazanah landasan pengetahuan dan teknologi sehingga sampai abad ke tigabelas dilakukan secara terus-menerus penggalian dan pengembangan pengetahuan yang kini kita jadikan landasan pengetahuan modern, dan bisa kita bandingkan dengan pengetahuan yang dikembangkan oleh barat yang baru dimulai pada permulaan abad 15 sampai sekarang.

Maka perlulah kita ketahui yang mana dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan dibidang pengetahuan secara pesat, karena dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui, maka dari sinilah akan  muncul teori untuk menerangkan suatu gejala, ataupun teori yang kita susun untuk meramalkan gejala yang akan terjadi bila diadakan suatu percobaan tertentu dalam laboratorium, kemudian dilakukan eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori, dan begitu seterusnya yang mana hingga sains natural tumbuh dan berkembang terus dari hasil serangkaian kegiatan kaji-mengkaji secara struktural dan sistematis silih berganti atau kita sebut intizhar, adapun hal tersebut hanya dapat terjadi dalam suatu generasi yang begitu gigihnya melakukan intizhar atau penelitian atas dasar keIslaman yang terkandung dalam Al Qur'an, dan bukan dengan cara kita sucikan dalam makna yang keliru sehingga muncul kerancuan pengetahuan yang kita akibatkan oleh penyampaian tentang Islam yang tidak Islami, maka akibatnya bisa kita lihat dan kita rasakan sekarang bagaimana kebanyakan kita menganggap belajar fisika, biologi, kimia dan ekonomi bukan pengetahuan Islam, bahkan sampai-sampai kita antipati dengan pengetahuan dunia yang dianggap bukan berasal dari Al Qur'an, dan pada akhirnya kita hanya kenal tentang Islam sebagai musabaqoh Al Qur'an, haji, zakat, dan shalawat nabi serta upacara-upacara seremonial, berikut segala larangan dan ancaman, amalan dan ganjaran, tidak lebih dari itu, dan selain itu
kita tolak habis.

Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya di bidang alkemi yang kemudian oleh ilmuwan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai pengetahuan kimia, sebab Jabir yang namanya dilatinkan menjadi Geber adalah orang yang telah melakukan intizhar dan merupakan orang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi menjadi zat-zat kimia dan mengklasifikasikannya.

Di dalam histories  pengetahuan yang ditulis oleh sarjana Eropa disebutkan bahwa Mohammad Ibnu Zakaria ar-rozi (865-925 M) telah menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi dan sebagainya, bahkan buku Ar-rozi, yang namanya dilatinkan menjadi Razes, dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana barat, yang baru berabad-abad kemudian mempelajari sains yang telah dikembangkan oleh umat Islam, di universitas-universitas Islam di Toledo dan Cordoba, Spanyol.

Demikian pula masih banyak ilmuwan Islam dan karya mereka untuk kita sebutkan pada kesempatan ini, dan begitu dalam pula pengaruh karya tokoh-tokoh ilmiah itu di Eropa dalam hal perkembangan pengetahuan hingga masih kita rasakan berabad-abad kemudian, maka yang menjadi pertanyaan kita pakah sebabnya pada era dahulu umat Islam giat sekali mengembangkan Islam secara mendalam baik dalam bidang hukum, filsafat, sains, maupun tasawuf., namun sebaliknya apakah yang kita lihat dan kita rasakan pada era sekarang diabad ke dua puluh dua ini?......... di rumah-rumah kita serta perpustakaan-perpustakaan Islam hanyalah tersisa berupa kitab lusuh klasik yang "kita keramatkan" dan "kita komersilkan" seperti imriti matan, jurumiah, bulughul marom, madzahibul arba'ah yang mana kesemuanya ini pelajaran-pelajaran tata bahasa arab belaka serta pengetahuan-pengetahuan fiqih yang sudah kita patenkan, dan pintu ijtihad kita tutup !!!

Sesungguhnya di dalam Al Qur'an banyak kita peroleh ayat yang mendorong kita sebagai umat Islam untuk melakukan intizhar dan menggunakan akal pikiran kita seperti tercantum dalam ayat 101 surat Yuunus, 10 memerintahkan :



Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intizhar/nazar apa-apa yang ada di langit dan di bumi".

Bahkan dalam ayat 17-20 surat Al Ghaasyiyah, 88 dipertanyakan. :
 


Maka apakah mereka tidak melakukan intizhar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung bagaimana ia didirikan. Dan bumi bagaimana ia dibentangkan. Maka berikanlah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan".

Adapun penggunaan akal pikiran kita untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah ditegaskan dalam surat An Nahl, 16 ayat 11 :
 


Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berfikir”.

Dan yang kemudian dilanjutkan dalam ayat 12 :

 

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal".

dan sebenarnya di dalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah menundukkan dan mengatur perilaku matahari, bintang, dan bulan dengan perintah-Nya. Peraturan Allah inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta beserta isinya, bagaimana ia harus bertingkah laku. Yang kemudian oleh manusia disebut sebagai hukum alam, atau peraturan yang diikuti oleh alam.

Lebih jelas lagi kita baca surat Fushshilat, 41 ayat: 11. 



Kemudian dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :"Silahkan kalian mengikuti peritah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Jawab mereka :Kami mengikuti dengan suka hati”.

Jadi sudah sungguh jelas buat kita yang mana ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala peritah dan peraturan sang pencipta, termasuk apa yang disebut alam mikrokosmos atau pada individu kita sebagai manusia, adapun yang termasuk segala yang ada dalam tubuh kita samplenya,  detak jantung, darah mengalir menghantarkan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, nafas menghembus tanpa kita perintahkan yang semuanya bergerak diluar kehendak kita, yang mana semua serba teratur dan tunduk patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan, mereka bekerja dalam ketetapan dan fungsinya masing-masing, namun demikian kita  tetaplah kita yang selalu saja tidak pernah bersyukur dan menyadari bahwa semua ini adalah karunia Allah yang maha pemurah, bahkan tetap saja kita senang mengingkari hal ini semua sebagai rahmat-Nya. Walaupun seluruh instrumen tubuh kita ini sesungguhnya ikut dalam peraturan Islam yang merupakan ketetapan Allah.

Maka sekianlah dahulu dasar-dasar pengetahuan umum ibadah ini, dan marilah kita berdoa bersama, agar kita semua yang hadir

diminggu pagi yang dimuliakan Allah SWT ini dapat mengamalkan dan sangat mudah memahaminya!
  
Ya Allah, gantungkanlah kami dan orang-orang yang berkonsultasi atau curhat atau ‘berobat’ kepada kami hanyalah kepada-MU, dan jangan Engkau datangkan kepada kami orang-orang yang tak mau mendatangi-Mu, kecuali bila itu sudah menjadi ketetapan-Mu".

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAAHu, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULU ALLAAHI.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu, dari ilmu yang hanya berorientasi kepada harta dan dunia, dari ilmu yang membuat kami sombong dan merasa hebat, dari ilmu yang menginvestasikan banyak kesulitan bagi kami di akhirat kelak.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui Isi Hati (Qolbu/Quluub) yang ada Di Dalam Dada (Shodr/Shuduur), lindungilah kami dari hati yang tidak khusyu’’, dari hati yang mudah jatuh pada godaan wanita (pria), dari hati yang merasa tinggi, dari hati yang suka pujian manusia, dari hati yang takut cacian dari manusia, dari hati yang mudah terprovokasi oleh dunia yang menipu, dan dari hati yang sering lalai dari-Mu.  

Ya Allah Yang Maha Menguasai, lindungilah kami dari pikiran yang tidak efektif, dari pikiran yang tidak menentu, dari pikiran yang tidak bermutu, dari pikiran yang suka menganalisa takdir-Mu, dan dari pikiran yang tidak tunduk kepada hati yang Engkau kuasai.  

Ya Allah Yang Maha Pemberi Rizki, lindungilah kami dari harta yang haram, dari harta yang syubhat, dari harta yang tidak bisa membantu hamba-Mu lainnya, dan dari harta yang tidak berkah.

Ya Allah Yang Maha Menganugerahkan, lindungilah kami dari sikap yang tidak pandai bersyukur atas ilmu, atas hati, atas pikiran, dan atas harta yang telah Engkau berikan kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, lindungilah kami dari keinginan yang tidak kami butuhkan, dari keinginan yang tidak Engkau ridhoi, dan dari keinginan yang tidak bisa dikendalikan.

Ya Allah Yang Maha Menenangkan, lindungilah kami dari jiwa yang tidak pernah puas, dari jiwa yang tidak pernah kenyang, dari jiwa yang tidak bisa tenang, dan dari jiwa yang tidak pandai bersyukur. 

Ya Allah Yang Maha Menghentikan Keburukan, lindungilah kami dari kesulitan yang menghadirkan kesulitan, dari hutang yang menghadirkan hutang, dan dari penyakit yang menghadirkan penyakit.  

Ya Allah Yang Maha Mengabulkan, lindungilah kami dari do'a-do'a yang tidak penting, dari do'a-do'a yang justru menjauhkan kami untuk mencintai-Mu, dan dari do'a-do'a yang tidak Engkau kabulkan.
Amin ya rabbal alamin.